Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un -Telah Wafat KH Sahal Mahfuzh Kajen Pati Jawa Tengah (Rois 'Aam PBNU dan Ketua Umum MUI- lahul fatihah

KISAH INSPIRATIF

Kisah adalah cara paling mudah dan ringan untuk menyampaikan sesuatu. Orang dapat menemukan dan memahami konsep dalam sebuah contoh kenyataan melalui kisah.
Bila menurut anda blog ini bermanfaat, sebarkanlah kepada keluarga dan teman-teman anda serta jadilah bagian dari penyuka halaman KISAH INSPIRATIF - HIKAYAT INDAH di facebook.

Jumat, 29 Januari 2010

CINTA SEJATI

Ada seorang pria sangat jatuh cinta pada seorang wanita. Ia mengungkapkan cinta itu dengan kata-kata yang indah, puitis dan romatis. Ia melakukannya terus-menerus, sehingga wanita itu tergangu.


Wanita itu pun berkata, “Kata-katamu indah, namun saudariku ikut di belakangku. Ia lebih cantik dariku. Aku yakin engkau akan lebih memilihnya dari aku”

Pria itu pun menengok untuk mencari saudari perempuan itu.

Sang wanita pun menamparnya seraya berkata, “Aku kira cintamu padaku betul-betul utuh dan sejati, namun begitu kusebut ada wanita lain yang lebih cantik, engkau langsung berpaling dariku. Engkau pendusta !”

Bila engkau betul-betul mempunyai cinta sejati, engkau pasti setia dan tidak berpaling sekejap pun. Ingatlah Allah selalu bersamamu. Ia tidak pernah berpisah apalagi pergi darimu. Dia mencintaimu. Apakah engkau mencintai-Nya ?

Selengkapnya...

Kamis, 28 Januari 2010

AGAMA YANG BENAR


Seorang sahabat berdiri di hadapan Rasulullah Muhammad s.a.w., ia bertanya, “Wahai Rosulallah ! Apakah agama itu ?”


Rasulullah s.a.w. menjawab, “Akhlaq yang baik”.

Ia pindah ke sebelah kanan dan bertanya kembali, “Wahai Rosulullah ! Apakah agama itu ?

Rasulullah s.a.w. menjawab, “Akhlaq yang baik”.

Ia pindah ke sebelah kiri dan kembali bertanya, “Wahai Rasulullah ! Apakah agama itu ?

Rasulullah s.a.w. kembali menjawab, “Akhlaq yang baik”.

Sahabat ini berpindah lagi. Dari arah belakang ia bertanya, “Wahai Rasulullah ! Apakah agama itu ?”

Rasulullah s.a.w. menoleh kepadanya dan berkata, “Apakah engkau belum mengerti ? Agama ialah engkau tidak boleh marah”.

Selengkapnya...

Rabu, 27 Januari 2010

SIAPA YANG KAU CINTAI ?


Di suatu pagi yang cerah, sahabat ‘Umar bin Khottob r.a. berpapasan dengan Rasulullah s.a.w. Rasulullah s.aw. bertanya, “Bagaimana keadaanmu pagi ini wahai sahabatku ?”

Umar bin Khottob r.a. menjawab, “Saat ini aku dalam keadaan beriman kepada Allah dan rasul-Nya”.

“Apakah cintamu pada Allah dan Rasul-Nya lebih besar dari cintamu kepada harta, keluarga, bahkan kepada dirimu sendiri ?” tanya Rasulullah s.a.w. lagi

“Tidak Ya Rasulallah, tentu saja aku lebih mencintai harta, keluarga dan diriku sendiri”
“Kalau begitu, engkau belum beriman” lanjut Rasulullah s.a.w.
Di rumah, sahabat ‘Umar bin Khottob r.a. merenung, “Mengapa Rasulullah berkata demikian ?” Beliau temukan, “Hartaku kucintai dan kujaga, tapi ia satu waktu menolongku dan lain waktu menjerumuskanku”
Sahabat ‘Umar bin Khottob r.a. pun menemui Rasulullah s.a.w.
“Bagaimana keadaaanmu pagi ini wahai ‘Umar ?” tanya Rasulullah s.a.w.
“Aku beriman pada Allah dan Rasulullah. Cintaku kepada Allah dan Rasulullah lebih dari cintaku pada hartaku” jawab ‘Umar bin Khottob r.a.
“Tapi, mana yang lebih engkau cintai, aku ataukah keluargamu ?” Rasulullah s.a.w. bertanya kembali.
“Cintaku kepada keluargaku lebih besar daripada cintaku padamu, Ya Rasulallah” jawab ‘Umar bin Khottob r.a. dengan jujur.
“Kalau begitu imanmu belum sempurna”
‘Umar bin Khottob r.a. tertegun. Di rumah ia kembali merenung. Ia menemukan, “Rasulullah lebih menyayangiku ketimbang anak, istri dan keluargaku. Mereka kusayangi dan menyayangiku, tapi kadangkala mereka masih menjerumuskanku dalam perbuatan yang syubhat . Sedangkan, Rasulullah tidak pernah sedikit pun menjerumuskanku. Beliau menyayangiku dengan tulus”.
Keesokan harinya, ‘Umar bin Khottob r.a. kembali bertemu Rasulullah s.a.w. Beliau bertanya, “Bagaimana keadaanmu pagi ini wahai “Umar ?”
“Ya Rasulullah, aku lebih mencintai Allah dan Rasul-Nya dari pada keluargaku sendiri”
“Tapi, apakah cintamu kepada diriku lebih besar dari pada cintamu kepada dirimu sendiri ?”
“Tidak ya Rasulallah. Aku lebih mencintai diriku sendiri dari pada mencintai Allah dan Rasul-Nya”
Rasulullah s.a.w. pun kembali berkata, “Bila begitu imanmu belum sempurna”.
Umar bin Khottob r.a. kembali pulang. Ia kembali merenung, “Rasulullah mengatakan imanku belum sempurna bila cintaku pada diriku sendiri lebih besar dari pada cintaku pada Allah dan Rasul-Nya. Celaka ! Aku tidak ingin mati seperti ini. Bila dipikir-pikir, kadangkala dorongan diri untuk berbuat maksiat sangat besar, seperti mengakhirkan shalat atau lebih memilih tidur dari pada berzikir kepada Allah. Sementara, Rasulullah tidak sekali pun mengajak kepada maksiat. Beliau selalu mengajak kepada kebaikan dunia dan akhirat”
Akhirnya, ‘Umar bin Khottob r.a. mendatangi Rasulullah s.a.w sambil berseru, “Ya Rasulallah, sekarang, Ya Rasulallah, sekarang aku lebih mencintai Allah dan Rasulullah dari pada hartaku, keluargaku dan diriku sendiri”
Rasulullah s.a.w. paham apa yang ada dalam diri ‘Umar bin Khottob r.a. Beliau s.a.w. pun berkata, “Sekarang wahai ‘Umar, sekarang juga wahai sahabatku, engkau adalah mukmin sejati”
Keduanya pun berangkulan dan ‘Umar bin Khottob r.a. menangis di pelukan Rasulullah s.a.w.

Selengkapnya...

BELENGGU TAK KENTARA


Seorang salik yang menempuh jalan menuju cinta Allah mengeluh pada seorang guru sufi. Ia bertanya, “Mengapa saya tidak juga memperoleh cinta dan ma’rifat kepada Allah ?”

Guru Sufi itu menjawab, “Potonglah janggutmu !”

Walaupun heran, orang itu mengikuti nasehat sufi itu. Ia potong janggutnya. Tak lama kemudian, ia pun memperoleh cinta dan ma’rifat kepada Allah.

Ia pun sadar dan mengerti. Selama ini ia tidak memperoleh cinta dan ma’rifat kepada Allah, karena hatinya telah dipenuhi cinta pada janggutnya.

Selengkapnya...

Kamis, 22 Oktober 2009

MILIK ANDA, BUKAN MILIKKU


Pernah di Syibam, ada seorang shalih memegang jabatan hakim. Selama bertahun-tahun tidak ada seorang pun yang mengadukan masalahnya.

Suatu hari ia mengeluh kepada penduduk kota, “Mengapa di antara kalian tak ada yang berkelahi ? Mengapa tak ada yang bersengketa ?”

Penduduk Syibam menjawab, “Penghuni kota ini antara yang satu dan yang lain telah didamaikan Al-Quran. Barang siapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah (Q.S. Asy-Syura (42) ayat 40). Mereka tidak butuh engkau. Apa yang hendak engkau hakimi jika mereka telah bersatu ?”

Akhirnya, sang hakim setiap hari masuk kantor, namun hanya jadi penganggur. Tidak ada seorang pun yang mengunjunginya untuk meminta keputusan sengketa.

Setelah 14 tahun, datang dua orang menemuinya.

“Ada apa ?” tanya hakim.

“Kami ada masalah”, jawab salah seorang tamunya.

“Alhamdu lillah, selamat datang, selamat datang. Selama bertahun-tahun aku merindukan kejadian seperti ini. Kemari dan duduklah. Aku akan bertindak adil kepada kalian”.

Sang hakim pun bersiap-siap dengan penuh semangat untuk menggunakan ilmunya memutuskan dengan adil. Ini kasus pertama dalam 14 tahun.

“Nah, ceritakanlah persoalanmu “

“Aku membeli sebidang tanah dari dia ini. Dalam tanah itu ternyata ada harta karun emas. Pada harta itu terdapat tanda-tanda sebagai peninggalan jaman dahulu (masa sebelum Islam). Berarti harta itu adalah rikaz”

"Benar” sang hakim mengomentari.

“Bila itu rikaz, maka sudah seharusnya menjadi hak pemilik tanah pertama. Aku mendatanginya dengan membawa harta itu. Namun, ia tidak mau menerimanya. Katanya ia telah menjual tanah itu padaku” lanjut orang itu.

“Aneh………??! Inilkah pengaduanmu ? Sekarang, jawablah”, kata sang hakim pada laki-laki yang seorang lagi.

“Pak hakim yang mulia, tanah itu berikut isinya telah saya jual. Saya tidak berhak lagi atas harta itu. Waktu menjual saya tidak berkata, “Saya jual tanah ini tanpa harta karunnya”. Harta itu ada di tanah yang telah saya jual, maka sudah seharusnya harta itu menjadi milik si pembeli”, jawab laki-laki yang kedua.

“Sungguh aneh. Inikah jawabanmu ?”

“Ya”

“Bagaimana pendapat kalian ?” tanya sang hakim selanjutnya.

“Pak hakim yang mulia, anda memahami syari’at Allah, ambillah harta ini dan gunakanlah”, kata keduanya.

“Kalian berdua ingin menyelamatkan diri dan membinasakan hakimmu ya?! Tidak bisa begitu !” tukas sang hakim.

“Bila begitu adililah kami” pinta keduanya.

“Sabarlah. Kalian punya anak ?”

“Ya, aku punya anak perempuan”

“Kamu ?”

“Aku punya anak laki-laki”

“Baiklah. Keluarkan 1/5 harta itu untuk zakat, karena itu rikaz. Sisanya yang 4/5 gunakanlah untuk pernikahan putra dan putri kalian. Sekarang pergilah kalian dari tempatku”, putus sang hakim.

Selengkapnya...

Sabtu, 14 Februari 2009

TENGKORAK PALING BERHARGA


Seorang yang disebut Bahlul di Bagdad pada masa hidupnya dikenal sebagai seorang yang pandir namun bijaksana. Suatu hari, ia duduk di sebuah pasar. Ia menempatkan tiga buah tengkorak di hadapannya. Di depan tengkorak pertama, ia letakkan tulisan “gratis”. Di depan tengkroak kedua, ia letakkan tulisan “satu sen”. Di depan tengkorak ketiga, ia letakkan tulisan “tak ternilai”.

Orang-orang yang melihat itu menganggap Bahlul telah gila. Hanya orang gila yang menjajakan tengkorak. Apalagi tiga tengkorak dengan harga yang berbeda. Apa yang membedakan ketiga tengkorak itu ? Ketiganya tampak sama.

Akhirnya, karena penasaran ada seseorang yang mendekatinya. Ia bertanya tentang perbedaan harga itu.

Bahlul mengambil sebuah tusuk daging dan mencoba memasukkan pada lubang telinga tengkorak yang bertanda gratis. Ia tidak dapat memasukkannya sama sekali. Ia berkata, “Lihatlah ! Tidak ada yang dapat masuk ke dalam. Tengkorak ini sama sekali tak berharga”

Kemudian, ia mencoba memasukkan tusuk daging itu ke dalam tengkorak yang bertanda satu sen. Tusuk daging itu denganmudah masuk. Dari satu telinga langsung menembus keluar melalui telinga yang lain. Ia berkata, “Anda lihat ? Tidak ada yang tertingal di dalamnya. Tengkorak ini hanya satu sen”.

Selanjutnya, ia mencoba pada telinga tengkorak yang bertanda tak ternilai. Tusuk daging itu masuk dengan mudah melewati telinga yang pertama, namun tidak dapat keluar melalui telinga kedua. Ia berkata, “Tengkorak ini tak ternilai harganya. Apa yang masuk ke dalamnya akan tetap di dalamnya, tidak keluar lagi”

Selengkapnya...

Jumat, 23 Januari 2009

BERKAH BASMALAH


Ada seorang Yahudi yang terpikat pada seorang perempuan sesama Yahudi. Saking tergila-gilanya, ia tidak ingin makan dan minum. Pergilah ia pada ‘Ato Al-Akbar untuk bertanya tentang keadaannya.


Ato menuliskan lafaz basmalah bagi dirinya pada secarik kertas dan berkata, “Telanlah kertas ini ! Semoga Allah membuatmu lupa darinya dan memberimu rizki dengan berkahnya basmalah”.

Setelah menelannya, Yahudi itu berkata, “Wahai ‘Ato, sungguh aku menemukan manisnya iman, hatiku bercahaya dan aku lupa pada perempuan itu. Jelaskanlah padaku tentang Islam !”.

Dijelaskanlah padanya tentang Islam. Ia pun kemudian masuk Islam dengan berkahnya basmalah.

Sang perempuan mendengar kabar keislamannya. Ia pun mendatangi ‘Ato. Ia berkata, “Wahai pemimpin kaum muslimin ! Aku perempuan yang diceritakan padamu oleh Yahudi yang masuk Islam itu. Dua hari yang lalu, aku bermimpi ada yang datang padaku. Ia berkata padaku, “Bila kamu ingin melihat tempatmu di surga, pergilah pada ‘Ato. Ia akan memperlihatkannya padamu. Sekarang aku datang padamu. Katakanlah padaku di mana surga ?”

‘Ato menjawab, “Bila engkau ingin surga, maka kamu harus membuka dulu pintunya. Baru kemudian kamu masuk ke dalamnya’.

Perempuan itu bertanya, “Bagaimana aku membuka pintunya ?”

“Ucapkanlah bismillahirrohmanirrohim !”

Perempuan itu pun mengucapkannya. Ia kemudian berkata, “Wahai ‘Ato, aku menemukan cahaya di hatiku dan aku melihat kerajaan Allah. Jelaskanlah padaku tentang Islam !”

Dijelaskanlah padanya tentang Islam. Ia pun kemudian masuk Islam dengan berkahnya basmalah.

Perempuan ini kemudian pulang ke rumahnya. Pada malamnya ia tertidur dan bermimpi masuk surga. Ia melihat istana-istana dan qubah-qubah surga. Pada sebuah qubah tertulis bismillahirrohmanirrohim, la ilaha illalloh muhammadur rosululloh. Ia kemudian membacanya. Mendadak ada suara yang berkata, “Wahai perempuan pembaca (tulisan), seperti itu yang Allah berikan kepadamu karena semua yang engkau baca”.

Terbangunlah perempuan itu dan bermunajat, “Wahai Tuhanku ! Aku telah masuk surga, kemudian Engkau keluarkan aku dari sana. Ya Allah ! Keluarkanlah aku dari dunia dengan kekuasaan-Mu !”

Ketika ia selesai bermunajat, runtuhlah rumah menimbuninya. Ia pun mati syahid. Allah mengasihinya dengan sebab berkah bismillahirrohmanirrohim.

Selengkapnya...